Pertentangan Sosial Dan Integrasi Masyarakat

PERBEDAAN KEPENTINGAN    

     Kepentingan  merupakan  dasar  dan  timbulnya  tingkah  laku  individu.  Individu  bertingkah  laku  karena  ada  dorongan untuk  memenuhi  kepentingannya.  Kepentingan  ini  sifatnya  esensial  bagi  kelangsungan  hidup  individu  itu  sendiri.  Jika individu  berhasil  dalam  memenuhi  kepentingannya,  maka  ia  akan  merasa  puas,  dan  sebaliknya  kegagalan  dalarn memenuhi kepentingan  mi akan  banyak  menimbulkan  masalah  baik  bagi dirinya  maupun  bagi lingkungannya. Dengan  berpegang  kepada  prinsip  bahwa  tingkah  laku  individu  merupakan  cara  atau  alat  dalam  memenuhi kepentingannya,  maka  kegiatan-kegiatan  yang  dilakukan  oleh  individu  di  dalam  masyarakat  pada  hakikatnya merupakan  manifestasi pemenuhan  dan  kepentingan  tersebut. Pada  umumnya  secara  psikologis  dikenal  ada  dua  jenis  kepentingan  dalam  din  individu  yaitu  kepentingan  untuk memenuhi  kebutuhan  biologis  dan  kebutuhan  sosial/psikologis.  OIeh  karena  individu  mengandung  arti  bahwa  tidak ada  dua  orang  individu  yang  sama  persis  di  dalam  aspek-aspek  pribadinya,  baik  jasmani  maupun  rohani,  maka  dengan sendirinya  timbul  perbedaan  individu  dalam  hal  kepentingannya.  Perbedaan-,  perbedaan  tersebut  secara  ganis  besar disebabkan  oleh  dua  faktor,  yaitu  faktor  pembawaan  dan  lingkungan  sosial  sebagai  komponen  utama  bagi terbentuknya  keunikan  indIvidu  dalam  hal  kepentingannya  meskipun  dengan  lingkungan  yang  sania.  Sebaliknya lingkungan  yang  berbeda  akan  memungkinkan  timbulnya  perbedaan  individu  dalam  hal  kepentingan meskipun pembawaannya  sama.Kenyataan-keflYataan  seperti  itu  menunjukkan  ketidakmanipuan  suatu  ideologi  mewujudkan  idealisme  yang metupakan  konsensus  dan  berbagai  subideologi  yang  akhiniya  akan  melahirkan  kondisi  dis-integrasi  atau  konflik. Permasalahan  utaxna  yang  jelas  tampak  dalam  tinjauan  konflik  mi  adalah  adanya  jarak  yang  tenlalu  besar  antara harapan  (tujuan  sosial)  dengan  kenyataan  pelaksanaafl dan  hasilnya. Kenyataan  seperti  itu  disebabkan  oleh  cara  pandang  yang  berbeda  antara  pemerintah/peflguaSa  sebagai  pemegang kendall  ideologi  dengan  berbagai  kelompok  kepentingan  sebagai  sub-sub  ideologi.  Di  sinilah  tercermiL  adanya perbedaan  kepentingan  antra  berbagai  kelompok  kepentingan  dalam  kerangka  tinjauan  politik.  Jika  lebih  terpeninci kita  melihat  pola  hubungan  antara  berbagai  kelompok  kepentingafl  sesuai  dengan  kelompok  sosial  yang  ada  dalam masyarakat,  niaka  akan  tampak  lagi  adanya  konflik  di  antara  mereka  yang  disebabkan  karena  cara  panclang  mereka yang  berbeda  tentang  satu  masalah.  Katakanlah  tentang  peranan  kelompok  sosial  dalam  pembangunafl  negara,  tentu saja  kelompok  agama,  kelompok  sosial,  ahli-ahli  ekonomi,  para  hartawan  dan  lain-lain  a1anmelihatnya  dan  sudut kepentingan  masing-masing  kelompok  tersebut.  Jika  lebih  detail  lagi  kita  perhatikan  pola  hubungan  dalam  satu kelompok,  masih  kita  akan  menemui  adanya  konflik  intern  yang  disebabkan  karena  perbedaan  kepentingan  masingmasing  individu  dalam  kelompok  itu  atau  sebagai  akibat  heterogenitas  suatu  kelompok. Perbedaan  kepentingan  mi  tidak  secara  langsung  menyebabkan  terjadinya  konflik  tetapi  rnengenal  beberapa  fase yaitu : Pertama,  fase  disorganisasi  yang  tenjadi  karena  kesalahfahaman  (akibat  pertentangan  antara  harapan  dengan  standar normatif),  yang  menyehabkan  sulitnya  atau  tidak  dapatnya  satu  kelompok  sosial  menyesuaikan  din  dengan  norma (ideologi).  Kedua,  fase  disintegrasi  (konflik)  yaitu  pernyataan  tidak  Setuju  dalam  berbagai  bentuk  seperti  timbulnya emosi  massa  yang  meluap,  protes,  aksi  mogok,  pemberontakan  dan  lainlain.

PRASANGKA, DISKRIMINASI DAN ETHNOSENTRISME 

     Prasangka dan Diskriminasi Prasangka dan diskriminasi adalah dua hal yang ada relevansinya. Kedua tindakan tersebut dapat merugikan pertumbuhan perkembangan dan bahkan integrasi masyarakat. Dan peristiwa kecil yang menyangkut dua orang dapat meluas dan menjalar, melibatkan sepuluh orang, golongan atau wilayah disertai tindakan-tindakan kekerasan dan destruktif yang merugikan. Prasangka mempunyai dasar pribadi, di mana setiap orang memilikinya, sejak masih kecil unsur sikap bermusuhan sudah nampak. Melalui proses belajar dan semakin besarnya manusia, membuat sikap cenderung untuk membedabedakan. Perbedaan yang secara sosial dilaksanakan antar lembaga atau kelompok dapat menimbulkan prasangka. Kerugiannya prasangka melalui hubungan pribadi akan menjalar, bahkan melembaga (turun-temurun) sehingga tidak heran kalau prasangka ada pada mereka yang berpikirnya sederhana dan masyarakat yang tergolong cendekiawan, sarjana, pemimpin atau negarawan. Jadi prasangka dasarnya pribadi dan dimiliki bersama. Oleh karena itu perlu mendapatkan perhatian dengan seksama, mengingat bangsa Indonesia terdiri dan berbagai suku bangsa atau masyanakat multi-etnik. Suatu hal yang saling berkaitan, apabila seorang individu mempunyai prasangka rasial biasanya bertindak diskriminatif terhadap ras yang diprasangkanya. Tetapi dapat pula yang bertindak diskriminatif tanpa didasani prasangka, dan sebaliknya seorang yang berprasangka dapat saja bertindak tidak diskriminatif. Perbedaan terpokok antara prasangka dan diskniminatif adalah bahwa prasangka menunjukkan pada aspek sikap,sedangkan diskriminatif pada tindakan. Menurut Morgan (1966) sikap adalah kecenderungan untuk berespons baik secara positif atau negatif terhadap orang, obyek atau situasi. Sikap seseorang banu diketahui bila ia sudah bertindak atau bertingkah-laku. Oleh karena itu bisa saja bahwa sikap bertentangan dengan tingkah-laku atau tindakan. Jadi prasangka merupakan kecenderungan yang tidak tampak, dan sebagai tindak lanjutnya timbul tindakan, aksi yang sifatnya realistis. Dengan demikian diskriminatif merupakan tindakan yang realistis, sedangkan prasangka tidak realistis dan hanya diketahui oleh din individu masing-masing. Apahila muncul suatu sikap berprasangka dan diskriminatif terhadap kelompok sosial lain, atau terhadap suatu suku bangsa, kelompok etnis tertentu, bisa jadi akan menimbulkan pertentangan-pertentangan sosial yang lebih luas.    

pertentangan  sosial  dapat  terjadi  di  masyarakat  sebagai  akibat  dan  adanya  interaksi  sosial.  Masalah  itu  akan lebih  menonjol  lagi  di  masyarakat  yang  bersifat  majemuk  seperti  Indonesia  i.  Setiap  orang  atau  kelompok  dalam menghadapi  masalah  soalal  selalu  melihat  dan  sistem  nilai  yang  benlaku  pada  kelompoknya.  Oleh  karena masyarakatIndonesia  merupakan  masyarakat  majemuk,  terdini  dan  bermacam-macam  kebudayaan,  seperti kebudayaan  Jawa,  Kebudayaan  Batak,  kebudayaan  Aceh,  kebudayaan  Dayak,  kebudayaan  Bali,  Ambon  dan sebagainya,  sedangkan  sistem  nilai  merupakan  bagian  dan  kebudayaan,  maka  betapa  kompleknya  masalah-masalah sosial  dan  atau  pertentangan  pertentangan  yang  timbul di Indonesia. 

    Integrasi  sosial  (integrasi  masyarakat)  dapat  diartikan  adanya  kerjasama  dan  seluruh  anggota  masyarakat,  mulai  dan individu,  keluarga,  lembaga,  dan  masyarakat  secara  keseluruhan  sehmgga  menghasilkan  persenyawaan-persenyawaan berupa  adanya  konsensus  nilai-nilai yang  sama-sama  dijunjung  tinggi.  Dalam  hal  mi  terjadi  akomodasi,  asimilasi  dan berkurangnya  prasangka-prasangka  di antara  anggota  masyarakat  secara  keseluruhan. Integrasi masyarakat  akan  terwujud  apabila  mainpu  mengendalikan  prasangka  yang  ada  di  masyarakat  sehingga  tidak t.erjadi  konflik,  dominasi,  tidak  banyak  sistem  yang  tidak  saling  melengkapi,  dan  tumbuh  integrasi  tanpa  paksaan. Oleh  karena  itu  untuk  mewujudkan  integrasi  masyarakat  pada  masyarakat  majemuk  dilakukan  dengan  mengatasi  atau mengurangi prasangka. Hal  yang  penting,  menganiati  dimensi  kemajemukan  suatu  masyarakat  dapat  dilakukan  dengan  melihat  jumlah kelompok yang berbeda  kebudayaannya,  konsensus anggota-anggota  masyarakat  terhadap  nilai  yang  mengikat  seluruh warga  masyarakat,  dan  mudah-tidaknya  individu  pindah  dan  suatu  kelompok  ke  kelompok  lainnya.  l Sejarah  telab  mencatat  bahwa  Sumpah  Pemuda  yang  dicetuskan  pada  tahun  1928  adalah  suatu  perwujudan solidaritassosial  begitu  kental  merasuk  dalam  kalbu  antar  golongan  pemuda.  Tidak  perlu  dipertanyakan  dan  mana asal-usul  suku  bangsa,  ras,  agama,  bahasa  dan  lain  sebagainya.  Mereka  bergabung,  membaur,  menyatu  dalam  kadar solidanitas  yang  tinggi,  menuju  terwujudnya  integrasi sosial  —  integrasi  nasional. Kondisi  yang  mirip  juga  pernah  terjadi,  walaupun  dimensi  waktu  dan  jumlah  pelaku’  berbeda.  Dalam  kurun  waktu tahun  lima  puluhan  sampai  enam  puluhan,  semua  golongan  begitu  larut  dalam  semangat  solidaritas  sosial  yang  tinggi, larut  dalam  kesadaran  kebersamaan  dalarn  berbangsa  begiu  mengendap.  Walaupun  tidak  dapat  dipungkiri,  pada  kurun waktu  itu  pun  terdapat  percikan-percikan  konflik  sosial  dalam  bentuk  pemberontakan-pemberontakan  di  daerahdaerah  tertentu  di  wilayah  Republik  Indonesia.  Narnun  begitu,  semua  pihak  tetap  menyadari,  bahwa  Tanah  Air  tercinta Negara  Kesatuan  Indonesia  mi didirikan  sebagai hasil kerjasama  Semua  pihak,  dan  semua  golongan. Bahwa  bangsa  dan  budaya  Indonesia  pada  hakikatnya  satu.  Kenyataan  adanya  berbagai  suku  bangsa,  ras  dan  corakragam  budaya  yang  ada  menggambarkan  kekayaan  Budaya  Bangsa  yang  menjadi  modal  dan  landasan  pengembangan Budaya  Bangsa  seluruhnya,  sehingga  menjadi  modal  dasar  bagi terwujudnya  Integrasi Sosial  —  Integrasi Nasional. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PERTENTANGAN-PERTENTANGAN SOSIAL DAN INTEGRASI MASYARAKAT

Metodologi Pada Data Mining : SEMMA